PENDIDIKAN MULTIKULTURAL
A.
Hakikat
Pendidikan Multikultural
Dalam dunia
multikultural harus mementingkan berbagai macam perbedaan antara yang satu
dengan yang lainnya dan menfokuskan pada pemahaman dan hidup bersama dalam
konteks sosial budaya yang berbeda. Pendidikan mulikultural harus dibelajarkan
sejak dini, sehingga anak akan mampu menerima dan memahami perbedaan budaya
yang berdampak pada perbedaan usage,
folkways, mores, dan customs.Dengan
pendidikan multicultural peserta didik mampu menerima perbedaan, kritik, dan
memiliki rasa empati, toleransi pada sesame tanpa memandang golongan, status,
gender, dan kemampuan akademik.
B.
Pengertian
dan Tujuan Pendidikan Multikultural
Pendidikan
multicultural dapat didefinisikan sebagai “pendidikan untuk atau tentang
keragaman kebudayaan dalam merespon perubahan demografis dan cultural
dilingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan”.
Istilah
pendidikan multikultural dapat digunakan baik pada tingkat deskriptif dan
normative, yang menggambarkan isu-isu dan masalah-masalah pendidikan yang berkaitan
dengan masyarakat multikultural. Pendidikan multikultural adalah suatu
pendekatan progresif untuk melakukan transformasi pendidikan secara menyeluruh
membongkar kekurangan, kegagalan, dan praktik-praktik diskriminasi dalam proses
pendidikan.
Pendidikan
multicultural merupakan respon terhadap perkembangan keanekaragaman populasi
sekolah, sebagaimana tuntutan persamaan hak bagi setiap individu bagi setiap
kelompok. Dalam dimensi lain, pendidikan multikultural merupakan pengembangan
kurikulum dalam aktivitas pendidikan untuk memasuki berbagai pandangan,
sejarah, prestasi dan perhatian terhadap orang-orang etnis lain. Pendidikan
multicultural harus diakui sebagai proses, bukan merupakan hak yang sederhana
seperti program yang komprehensif.
C.
Sejarah
Pendidikan Multikultural
Pendidikan
multicultural sekarang sudah mengalami perkembangan, baik teoritis maupun
praktek sejak konsep paling awal muncul tahun 1960-an yang pertama kali
dikemukakan oleh Bank. Pada saat itu, konsep pendidikan multicultural lebih pada
supermasi kulit putih di AS dan diskriminasi yang dialami kulit hitam.
Pendidikan
multicultural berkembang di dalam masyarakat Amerika yang bersifat antarbudaya
etnis yang besar, yaitu budaya antarbangsa.
Pendidikan
multicultural di Inggris berkembang sejalan dengan datangnya kaum migrant, yang
mendapat perlakuan diskriminatif oleh pemerintah dan kaum mayoritas Inggris,
sehingga menimbulkan gerakan yang belatarbelakang budaya. Pendidikan
multicultural terjadi karena dorongan dari bawah, yaitu kelompok liberal
bersama dengan kelompok bewarna.
Berbeda dengan
Negara AS, Inggris dan Negara Eropa lainnya, dimana pada umumnya multicultural
bersifat budaya antar bangsa, keragaman budaya datang dari luar bangsa mereka.
Multikulturla di Indonesia bersifat antar etnis yang kecil, yaitu budaya antarsuku bangsa.
D.
Perspektif
dan Tujuan Pendidikan Multikultural
Nasikun (2005)
menyampaikan bahwa ada tiga perspektif multikulturalisme didalam system
pendidikan: (1) perspektif cultural assimilation; (2) Perspektif cultural pluralism; dan (3) prespektif cultural synthesis.
Pilihan
perspektif pendidikan sistesis multicultural memiliki rasional paling besar di
dalam hakekat tujuan suatu pendidikan multicultural, yang dapat diidentifikasi
melalui tiga tujuan, yaitu tujuan “attitudinal”, tujuan “kognitif” dan tujuan
“intrusksional”. Pada tingkat attitudinal,
pendidikan multicultural memiliki fungsi untuk menyemai dan mengembangkan
sensitifitas cultural, toleransi cultural, penghormatan pada identitas
kulturral, pengembangan sikap budaya reponsif dan keahlian untuk melakukan
penolakan dan resolusi konflik. Pada tingkatan kognitif, pendidikan
multicultural memiliki tujuan bagi pencapaian kemampuan akademik, pengembangan
pengetahuan tentang kemajemukan kebudayaan, kompetensi untuk melakukan analisis
dan interpretasi perilaku cultural, dan kemampuan membangun kesadaran kritis
tentang kebudayaan sendiri. Pada tingkat Instruksional, penddikan multicultural
memiliki tujuan untuk mengembangkan kemampuan melakukan koreksi atas distorsi-distorsi,
peniadaan-peniadaan dan mis-informasi tentang kelompok-kelompok etnis,
mengembangkan komunikasi interpersonal.
E.
Dasar
Pendidikan Multikultural
Pendidikan yang
cocok untuk bangsa Indonesia yang multikultural adalah pendidikan
multicultural. Pendidikan multicultural paling tidak menyangkut tiga hal,
yaitu: (1) ide dan kesadaran akan nilai penting keragaman budaya; (2) gerakan
pembaharuan pendidikan, dan (3) proses.
Kesadaran
bilai penting keragaman budaya
kesadaran akan
keragaman berkontribusi pada perkembangan pribadi siswa. Pendidikan
multicultural menekankan pada perkembangan pemahaman diri yang lebih besar,
konsep diri yang positif, dan kebanggaan pada identitas pribadinya Artinya,
memiliki pemahaman yang lebih baik tentang dirinya yang pada akhirnya
berkontribusi terhadap keseluruhan prestasi intelektual, akademis, dan sosial
siswa.
Gerakan
pembaharuan pendidikan
Pendidikan
multicultural bisa muncul berbenttuk bidang studi, program dan praktek yang
direncanakan lembaga pendidikan untuk merespon tuntutan, kebutuhan, dan
aspirasi berbagai kelompok. Pendidikan multikultural bukan sekedar merupakan
praktik aktual atau bidang study atau program pendidikan semata, namun
mencangkup seluruh aspek-aspek pendidikan.
Proses
pendidikan
Pendidikan
multikultural adalah proses menjadi, proses yang berlangsung terus menerus dan
bukan sebagai sesuatu yang langsung tercapai. Tujuan pendidikan multikultural
adalah untuk memperbaiki prestasi secara untuh bukan sekedar meningkatkan skor.
F.
Fungsi
Pendidikan Multikultural
The National
Council for Sosial Studies, mengajukan sejumlah fungsi yang menunjukkan
pentingnya keberadaan dari pendidikan multikultural. Fungsi tersebut adalah:
(1) member konsep diri yang jelas; (2) membantu memahami pengalaman etnis dan
budaya ditinjau dari sejarahnya; (3) membantu memahami bahwa konflik antara
ideal dan realitas itu memang ada pada setiap masyarakat; (4) membantu
mengembangkan pembuatan keputusan, partisipasi sosial dan ketrampilan
kewarganegaraan; (5) mengenal keberagaman dan penggunan bahasa.
G. Pendekatan dalam Proses Pendidikan
Multikultural
Bank
(1993) mengemukakan 4 pendekatan yang mengintegrasi materi pendidikan multikultural
kedalam kurikulum ataupun pembelajaran di sekolah yang bila dicermati relevan
untuk diimplementasikan disekolah di Indonesia. pendekatan tersebut, yaitu:
1.
Pendekatan kontribusi (the contributions approach). Level ini
yang paling sering dilakukan dan paling luas dipakai dalam fase pertama dari
gerakan kebangkitan etnis.
2.
Pendekatan aditif (Aditive Approach). Pada tahap ini dilakukan penambahan materi,
konsep, tema dan prespektif terhadap kurikulum tanpa mengubah struktur, tujuan
dan karakteristik dasarnya.
3.
Pendekatan Transformasi (the transformasi approach). Pendekatan
transformatif berbeda secara mendasar dengan pendekatan konstribusi dan aditif.
Pada pendekatan transformasi mengubah asumsi dasar kurikulum dan menumbuhkan
kompetensi siswa dalam melihat konsep, isu, tema dan problem dari beberapa
prespektif dan sudut pandang etnis.
4.
Pendekatan aksi sosial (the sosial action approach) mencangkup
semua elemen dari pendekatan transformasi, namun menambah komponen yang
mensyaratkan siswa membuat aksi yang berkaitan dengan konsep, isu atau masalah
yang dipelajari dalam unit. Tujuan utama dari pengajaran dalam pendekatan ini
adalah didik siswa melakukan untuk kritik sosial dan mengajari mereka
ketrampilan pembuatan keputusan untuk memperkuat siswa dan membantu mereka
memperoleh pendidikan politis, sekolah membantu mereka menjadi kritikus sosial
yang reflektif dan partisippan yang terlatih dalamm perubahan sosial. Dalam
pendekatan ini pengajaran adalah agen perubahan sosial yang meningkatkan
niali-nilai demokratis dan kekuatan siswa.
H. Prakondisi Penerapan Pendidikan
Multikultural di Sekolah
Pada
dasarnya pendidikan multicultural dikembangkan untuk mengakomodasi keberagaman
budaya yang dimiliki oleh anak didik baik secara kelompok maupun individual.
Untuk lebih memahami dan mendalami konsep pendidikam multicultural ini, perlu
kiranya diperhatikan pula beberapa prinsip dasar dalam penerapan pendidikan
multikulttural tersebut.
Secara
praktis di sekolah, Baker (1994:31) juga memberikan penjelasan mengenai
komponen-komponen yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan pendidikan
multicultural di sekolah. Komponen-kkomponen tersebut mencangkup semua komponen
komunitas sekolah, yaitu meliputi: (1) kepemimpinan dan kepenasehatan; (2)
kebijakan dan legalitas; (3) badan pemerintahan; (4) administrasi tingkat
pusat; (5) lokal sekolah, harus melibatkan masyarakat, orang tua, murid-murid
dan kepala sekolah.
Pendidikan sebagai pembudayaan
Pendidikan
dapat dilakukan melalui proses pembudayaan yang diawali dengan proses
pembiasaan. Proses pendidikan pembudayaan di Indonesia, hendaknya bertujuan
untuk membina pribadi-pribadi bangsa Indonesia yang mempunyai budaya sebagai
cirri khasnya masing-masing. Pendidikan yang dikemas dalam bingkai pembudayaan
ini sudah selayaknya dikembangkan dalam pendidikan di Indonesia, terutama pada
pendidikan tingkat dasar. Salah satu upaya pembudayaan kepada siswa sekolah
dasar adalah melalui cerita karena cerita mudah dipahami anak dan menyampaikan
pesan moral yang baik.
#
sumber: Sosiologi Pendidikan
Karangan
Prof. Dr. Farida Hanum, M.Si
Tidak ada komentar:
Posting Komentar