Total Tayangan Halaman

Minggu, 27 Mei 2012

PENDIDIKAN MULTIKULTURAL


PENDIDIKAN MULTIKULTURAL
A.      Hakikat Pendidikan Multikultural
Dalam dunia multikultural harus mementingkan berbagai macam perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya dan menfokuskan pada pemahaman dan hidup bersama dalam konteks sosial budaya yang berbeda. Pendidikan mulikultural harus dibelajarkan sejak dini, sehingga anak akan mampu menerima dan memahami perbedaan budaya yang berdampak pada perbedaan usage, folkways, mores, dan customs.Dengan pendidikan multicultural peserta didik mampu menerima perbedaan, kritik, dan memiliki rasa empati, toleransi pada sesame tanpa memandang golongan, status, gender, dan kemampuan akademik.
B.       Pengertian dan Tujuan Pendidikan Multikultural
Pendidikan multicultural dapat didefinisikan sebagai “pendidikan untuk atau tentang keragaman kebudayaan dalam merespon perubahan demografis dan cultural dilingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan”.
Istilah pendidikan multikultural dapat digunakan baik pada tingkat deskriptif dan normative, yang menggambarkan isu-isu dan masalah-masalah pendidikan yang berkaitan dengan masyarakat multikultural. Pendidikan multikultural adalah suatu pendekatan progresif untuk melakukan transformasi pendidikan secara menyeluruh membongkar kekurangan, kegagalan, dan praktik-praktik diskriminasi dalam proses pendidikan.
Pendidikan multicultural merupakan respon terhadap perkembangan keanekaragaman populasi sekolah, sebagaimana tuntutan persamaan hak bagi setiap individu bagi setiap kelompok. Dalam dimensi lain, pendidikan multikultural merupakan pengembangan kurikulum dalam aktivitas pendidikan untuk memasuki berbagai pandangan, sejarah, prestasi dan perhatian terhadap orang-orang etnis lain. Pendidikan multicultural harus diakui sebagai proses, bukan merupakan hak yang sederhana seperti program yang komprehensif.  
C.      Sejarah Pendidikan Multikultural
Pendidikan multicultural sekarang sudah mengalami perkembangan, baik teoritis maupun praktek sejak konsep paling awal muncul tahun 1960-an yang pertama kali dikemukakan oleh Bank. Pada saat itu, konsep pendidikan multicultural lebih pada supermasi kulit putih di AS dan diskriminasi yang dialami kulit hitam.
Pendidikan multicultural berkembang di dalam masyarakat Amerika yang bersifat antarbudaya etnis yang besar, yaitu budaya antarbangsa.
Pendidikan multicultural di Inggris berkembang sejalan dengan datangnya kaum migrant, yang mendapat perlakuan diskriminatif oleh pemerintah dan kaum mayoritas Inggris, sehingga menimbulkan gerakan yang belatarbelakang budaya. Pendidikan multicultural terjadi karena dorongan dari bawah, yaitu kelompok liberal bersama dengan kelompok bewarna.
Berbeda dengan Negara AS, Inggris dan Negara Eropa lainnya, dimana pada umumnya multicultural bersifat budaya antar bangsa, keragaman budaya datang dari luar bangsa mereka. Multikulturla di Indonesia bersifat antar etnis yang  kecil, yaitu budaya antarsuku bangsa.
D.      Perspektif dan Tujuan Pendidikan Multikultural
Nasikun (2005) menyampaikan bahwa ada tiga perspektif multikulturalisme didalam system pendidikan: (1) perspektif cultural assimilation; (2) Perspektif cultural pluralism; dan (3) prespektif cultural synthesis.
Pilihan perspektif pendidikan sistesis multicultural memiliki rasional paling besar di dalam hakekat tujuan suatu pendidikan multicultural, yang dapat diidentifikasi melalui tiga tujuan, yaitu tujuan “attitudinal”, tujuan “kognitif” dan tujuan “intrusksional”. Pada tingkat attitudinal, pendidikan multicultural memiliki fungsi untuk menyemai dan mengembangkan sensitifitas cultural, toleransi cultural, penghormatan pada identitas kulturral, pengembangan sikap budaya reponsif dan keahlian untuk melakukan penolakan dan resolusi konflik. Pada tingkatan kognitif, pendidikan multicultural memiliki tujuan bagi pencapaian kemampuan akademik, pengembangan pengetahuan tentang kemajemukan kebudayaan, kompetensi untuk melakukan analisis dan interpretasi perilaku cultural, dan kemampuan membangun kesadaran kritis tentang kebudayaan sendiri. Pada tingkat Instruksional, penddikan multicultural memiliki tujuan untuk mengembangkan kemampuan melakukan koreksi atas distorsi-distorsi, peniadaan-peniadaan dan mis-informasi tentang kelompok-kelompok etnis, mengembangkan komunikasi interpersonal.
E.       Dasar Pendidikan Multikultural
Pendidikan yang cocok untuk bangsa Indonesia yang multikultural adalah pendidikan multicultural. Pendidikan multicultural paling tidak menyangkut tiga hal, yaitu: (1) ide dan kesadaran akan nilai penting keragaman budaya; (2) gerakan pembaharuan pendidikan, dan (3) proses.
Kesadaran bilai penting keragaman budaya
kesadaran akan keragaman berkontribusi pada perkembangan pribadi siswa. Pendidikan multicultural menekankan pada perkembangan pemahaman diri yang lebih besar, konsep diri yang positif, dan kebanggaan pada identitas pribadinya Artinya, memiliki pemahaman yang lebih baik tentang dirinya yang pada akhirnya berkontribusi terhadap keseluruhan prestasi intelektual, akademis, dan sosial siswa.
Gerakan pembaharuan pendidikan
Pendidikan multicultural bisa muncul berbenttuk bidang studi, program dan praktek yang direncanakan lembaga pendidikan untuk merespon tuntutan, kebutuhan, dan aspirasi berbagai kelompok. Pendidikan multikultural bukan sekedar merupakan praktik aktual atau bidang study atau program pendidikan semata, namun mencangkup seluruh aspek-aspek pendidikan.
Proses pendidikan
Pendidikan multikultural adalah proses menjadi, proses yang berlangsung terus menerus dan bukan sebagai sesuatu yang langsung tercapai. Tujuan pendidikan multikultural adalah untuk memperbaiki prestasi secara untuh bukan sekedar meningkatkan skor.
F.       Fungsi Pendidikan Multikultural
The National Council for Sosial Studies, mengajukan sejumlah fungsi yang menunjukkan pentingnya keberadaan dari pendidikan multikultural. Fungsi tersebut adalah: (1) member konsep diri yang jelas; (2) membantu memahami pengalaman etnis dan budaya ditinjau dari sejarahnya; (3) membantu memahami bahwa konflik antara ideal dan realitas itu memang ada pada setiap masyarakat; (4) membantu mengembangkan pembuatan keputusan, partisipasi sosial dan ketrampilan kewarganegaraan; (5) mengenal keberagaman dan penggunan bahasa.
G.      Pendekatan dalam Proses Pendidikan Multikultural
Bank (1993) mengemukakan 4 pendekatan yang mengintegrasi materi pendidikan multikultural kedalam kurikulum ataupun pembelajaran di sekolah yang bila dicermati relevan untuk diimplementasikan disekolah di Indonesia. pendekatan tersebut, yaitu:
1.    Pendekatan kontribusi (the contributions approach). Level ini yang paling sering dilakukan dan paling luas dipakai dalam fase pertama dari gerakan kebangkitan etnis.
2.    Pendekatan aditif (Aditive Approach). Pada tahap ini dilakukan penambahan materi, konsep, tema dan prespektif terhadap kurikulum tanpa mengubah struktur, tujuan dan karakteristik dasarnya.
3.    Pendekatan Transformasi (the transformasi approach). Pendekatan transformatif berbeda secara mendasar dengan pendekatan konstribusi dan aditif. Pada pendekatan transformasi mengubah asumsi dasar kurikulum dan menumbuhkan kompetensi siswa dalam melihat konsep, isu, tema dan problem dari beberapa prespektif dan sudut pandang etnis.
4.    Pendekatan aksi sosial (the sosial action approach) mencangkup semua elemen dari pendekatan transformasi, namun menambah komponen yang mensyaratkan siswa membuat aksi yang berkaitan dengan konsep, isu atau masalah yang dipelajari dalam unit. Tujuan utama dari pengajaran dalam pendekatan ini adalah didik siswa melakukan untuk kritik sosial dan mengajari mereka ketrampilan pembuatan keputusan untuk memperkuat siswa dan membantu mereka memperoleh pendidikan politis, sekolah membantu mereka menjadi kritikus sosial yang reflektif dan partisippan yang terlatih dalamm perubahan sosial. Dalam pendekatan ini pengajaran adalah agen perubahan sosial yang meningkatkan niali-nilai demokratis dan kekuatan siswa.
H.      Prakondisi Penerapan Pendidikan Multikultural di Sekolah
Pada dasarnya pendidikan multicultural dikembangkan untuk mengakomodasi keberagaman budaya yang dimiliki oleh anak didik baik secara kelompok maupun individual. Untuk lebih memahami dan mendalami konsep pendidikam multicultural ini, perlu kiranya diperhatikan pula beberapa prinsip dasar dalam penerapan pendidikan multikulttural tersebut.
Secara praktis di sekolah, Baker (1994:31) juga memberikan penjelasan mengenai komponen-komponen yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan pendidikan multicultural di sekolah. Komponen-kkomponen tersebut mencangkup semua komponen komunitas sekolah, yaitu meliputi: (1) kepemimpinan dan kepenasehatan; (2) kebijakan dan legalitas; (3) badan pemerintahan; (4) administrasi tingkat pusat; (5) lokal sekolah, harus melibatkan masyarakat, orang tua, murid-murid dan kepala sekolah.
 Pendidikan sebagai pembudayaan
Pendidikan dapat dilakukan melalui proses pembudayaan yang diawali dengan proses pembiasaan. Proses pendidikan pembudayaan di Indonesia, hendaknya bertujuan untuk membina pribadi-pribadi bangsa Indonesia yang mempunyai budaya sebagai cirri khasnya masing-masing. Pendidikan yang dikemas dalam bingkai pembudayaan ini sudah selayaknya dikembangkan dalam pendidikan di Indonesia, terutama pada pendidikan tingkat dasar. Salah satu upaya pembudayaan kepada siswa sekolah dasar adalah melalui cerita karena cerita mudah dipahami anak dan menyampaikan pesan moral yang baik.

# sumber: Sosiologi Pendidikan
Karangan Prof. Dr. Farida Hanum, M.Si

Tidak ada komentar:

Posting Komentar